Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia
Ada beberapa pendapat dari para ahli mengenai siapa dan
darimana datangnya nenek moyang bangsa Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa bangsa Indonesia
terdiri atas macam–
macam suku bangsa dengan kebudayaannya yang berbeda–beda. Mengapa secara
fisik suku bangsa yang ada di
Indonesia berbeda–beda? Mari kita pelajari dari pendapat para ahli terlebih dahulu.
Pendapat tentang masuknya nenek moyang bangsa Indonesia ada
4 teori, yaitu Teori Nusantara, Teori
Yunan, Teori Out of Taiwan, dan Teori
Out of Africa. Di antara 4 teori
tersebut, Teori Yunan yang banyak
diakui karena didukung dengan bukti–bukti
yang kuat.
1.
Teori Nusantara
Menurut Teori Nusantara bahwa asal mula manusia yang
menghuni wilayah Nusantara ini tidak
berasal dari luar, melainkan
dari wilayah Nusantara itu sendiri. Teori nusantara menyatakan
bahwa manusia purba menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Indonesia sendiri. Pendukung teori
Nusantara adalah Mohammad Yamin, J. Crawford, K. Himly, Sutan Takdir Alisjahbana, dan Gorys Keraf.
Berdasarkan hasil penelitian Gregorius Keraf (Gorys Keraf) mengenai
bahasa-bahasa Nusantara
sebagaimana dipaparkan dalam bukunya yang berjudul Linguistik Bandingan Historia
(1984) membuahkan teori baru mengenai asal usul bahasa dan bangsa
Indonesia. Menurut teori Keraf, nenek moyang bangsa Indonesia berasal
dari wilayah Indonesia
sendiri, bukan dari mana-mana, bukan pula dari Asia Tenggara
Daratan atau dari
Semenanjung Malaka.
2.
Teori Yunan
Menurut Teori Yunan disebutkan bahwa manusia-manusia purba di Indonesia
yang menjadi nenek moyang bangsa Indonesia berasal
dari Yunan, Cina bagian Selatan.
Beberapa ahli yang mendukung teori Yunan adalah Dr. J.H.C. Kern, Robert
Barron van Heine Geldern, Prof. Dr. N.J Krom,
dan Moh. Ali.
Menurut Moh. Ali bahwa bangsa Indonesia berasal dari daerah
Mongol yang terdesak ke Selatan oleh bangsa-bangsa
yang lebih kuat. Menurut pendukung teori Yunan, pendapat mereka didasari oleh
dua hal berikut.
a.
Ditemukan kapak tua di wilayah
Nusantara yang memiliki kemiripan
dengan kapak tua yang ada
di kawasan Asia Tengah.
b.
Bahasa Melayu yang berkembang di
Nusantara memiliki kemiripan dengan bahasa Champa
yang ada di Kamboja. Hal tersebut membuka kemungkinan bahwa penduduk di Kamboja berasal
dari daratan Yunan dengan menyusuri Sungai Mekong.
Arus perpindahan tersebut selanjutnya
diteruskan ketika sebagian dari mereka melanjutkan perpindahan dan sampai ke Nusantara. Kedatangan manusia dari
Yunan ke kepulauan Nusantara ini dengan melalui
tiga gelombang utama (perpindahan orang Negrito, Proto-
Melayu, dan Deutro Melayu).
Perhatikan tabel berikut ini!
Tabel.
Pembagian asal usul suku bangsa di Indonesia
|
Gelombang |
Suku Bangsa |
Jalur Masuknya |
Peninggalan Kebudayaan |
Keturunan |
|
1.000 SM |
Bangsa Negrito |
Asia Tenggara – Indonesia
(Sumatra dan Papua) |
|
Suku Papua, Suku Sakai (Riau) |
|
Pertama (tahun 2.000 SM) |
Proto
Melayu (Melayu Tua) Ras Austromelanesoid |
▪
Dari Cina Selatan lewat Taiwan – Sulawesi – Maluku – Papua |
Kapak Lonjong |
Suku Toraja |
|
|
|
▪
Dari Cina Selatan –
Semenanjung Malaysia – Sumatera – Kalimantan – Jawa –
Bali – Nusa Tenggara |
Kapak Persegi |
Suku
Nias, Suku Dayak, Suku Sasak, Suku Batak |
|
Kedua
(500 SM) |
Deutero Melayu (Melayu Muda) Ras Mongoloid |
▪
Dari Cina Selatan – Thailand – Malaysia – sepanjang daerah pantai Indonesia |
Perhiasan, nekara, kapak corong, chandrasa, moko |
Suku
Minang, Suku Bugis, Suku Jawa, Suku Bali |
Sumber: Dokumen
Penerbit
3.
Teori Out of Taiwan
Menurut Teori Out of
Taiwan, nenek moyang bangsa Indonesia adalah berasal dari Taiwan bukan dari daratan
Cina. Pendukung teori Out of Taiwan adalah Harry Truman Simanjuntak. Menurut pendekatan linguistik bahwa dari keseluruhan bahasa yang digunakan
suku-suku di Nusantara
memiliki rumpun yang sama, yaitu rumpun Austronesia.
4.
Teori Out of Afrika
Berdasarkan Teori Out
of Africa, bahwa manusia modern yang hidup sekarang ini berasal dari Afrika. Dasar teori ini adalah dukungan
ilmu genetik melalui
penelitian DNA mitokondria gen perempuan dengan gen
laki-laki. Menurut Max Ingman (ahli genetika dari Amerika Serikat), manusia modern yang ada sekarang ini berasal
dari Afrika antara kurun waktu 100-200 ribu tahun lalu.
Diperkirakan manusia Afrika melakukan migrasi ke luar
Afrika sekitar 50.000-70.000 tahun silam. Mereka memasuki
Asia dan ada beberapa kelompok
yang tinggal sementara
di Timur Tengah, sedangkan kelompok lainnya melanjutkan perjalanan
dengan menyusuri pantai Semenanjung Arab menuju ke India,
Asia Timur, Indonesia, bahkan sampai ke Barat Daya Australia.
Bukti mengenai keberadaan manusia Afrika telah sampai ke Australia adalah dengan ditemukan bahwa manusia Afrika telah bermigrasi hingga ke Australia adalah dengan jejak genetika.
Nilai-nilai Budaya pada Masyarakat Praaksara
Menurut
Dr. J. l. Brandes, Indonesia memiliki 10 unsur budaya asli Indonesia.
Unsur–unsur budaya asli tersebut sebagai berikut.
1.
Kepandaian bersawah,
2.
Kemampuan dalam pelayaran,
3.
Mengenal prinsip dasar pertunjukan
wayang,
4.
Kemampuan dalam seni gamelan,
5.
Kepandaian membatik,
6.
Mengerjakan barang
dari logam,
7.
Menggunakan aturan
metrik,
8.
Menggunakan alat tukar uang logam,
9.
Mengenal sistem perbintangan (astronomi), dan
10. Telah terbentuknya susunan masyarakat yang teratur.
Mengapa tidak semua budaya luar ditiru oleh bangsa kita? Karena masyarakat kita pada waktu
itu telah memiliki "local genius ", yaitu kemampuan suatu daerah/masyarakat untuk
menyaring dan mengolah budaya asing
yang masuk dan disesuaikan dengan karakteristik daerah setempat. Dari kehidupan pada zaman Prasejarah
dapat kita simpulkan tentang nilai-nilai budaya apa saja yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang masih terlihat dalam kehidupan di masyarakat Indonesia sampai sekarang diuraikan berikut ini.
1.
Tradisi Bercocok
Tanam
Cara bercocok tanam yang pertama
dilakukan, yaitu dengan sistem berladang
yang berubah menjadi bersawah.
Cara bercocok tanam dengan bersawah kemudian menjadi bagian dari hidup mereka. Indonesia merupakan negara yang masih
mengandalkan sektor pertanian dari
segi kegiatan ekonomi penduduknya. Berkenaan dengan hal itu, mereka berusaha mencari tempat tinggal dan tempat
bercocok tanam yang terletak di sepanjang aliran sungai.
Akhirnya, mereka mampu mengatur tata air melalui
irigasi sederhana. Mereka juga dapt menentukan jenis tanaman
apa yang cocok ditanam pada suatu musim. Hal ini tidak mengherankan karena mereka telah mengenal ilmu perbintangan.
2.
Tradisi Bahari
Menurut Von Heine Geldern bahwa nenek moyang bangsa
Indonesia berasal dari daerah Yunan,
di Cina Selatan. Semenjak dulu nenek moyang kita telah memiliki kemampuan dalam mengarungi lautan. Ketika memasuki
kepulauan Nusantara mereka menggunakan perahu
bercadik, yaitu jenis perahu yang di kanan kirinya menggunakan bambu dan kayu supaya perahu tetap seimbang. Pengetahuan
arah angin dan astronomi diperoleh melalui pengalaman
bertahun–tahun mengarungi lautan. Suku bangsa yang terkenal sebagai pelaut adalah Suku
Bugis.
Gambar. Perahu Pinisi yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia
Sumber: https://www.suara.com/lifestyle/2021/08/08/091635/mengenal-apa-itu-kapal- pinisi-sejarah-jenis-dan-fakta-unik-ritual-pembuatannya
3.
Nilai Seni
Nenek moyang kita memiliki kesenian yang tinggi, mulai dari
seni wayang, seni gamelan, seni
batik, dan seni tari. Kemampuan membuat batik, kerajinan logam, dengan beragam bentuk, dan benda-benda dari batu yang
besar (tradisi megalitikum) sangat unggul, bahkan sudah ada beberapa
yang diakui dunia internasional.
4.
Nilai Religius
Dengan adanya kepercayaan yang berkembang saat itu, yaitu
animisme dan dinamisme, menandakan
bahwa nenek moyang bangsa kita adalah masyarakat yang religius. Artinya masyarakat pada saat itu telah mempercayai
adanya kekuatan maha tinggi di luar darinya.
Mereka percaya bahwa jika seseorang yang meninggal, hanya jasmaninya
saja yang hancur, tetapi rohnya
tetap hidup. Roh-roh itu bertempat tinggal di suatu daerah keramat. Nenek moyang kita lantas memuja roh-roh
itu sehingga memunculkan kebiasaan membakar kemenyan, berkenduri, dan membuat sesaji.
Animisme adalah kepercayaan kepada roh nenek
moyang, Dinamisme kepercayaan kepada benda-benda yang memiliki kekuatan gaib, kesaktian atau tuah, sedangkan totemisme
merupakan kepercayaan terhadap hewan-hewan yang dianggap keramat dan membawa
berkah.
5.
Nilai Gotong Royong
Masyarakat prasejarah yang hidup secara berkelompok sudah
mengenal gotong royong demi
kepentingan bersama. Hal ini masih terlihat pada masyarakat sekarang ini.
Gotong royong menjadi ciri khas
masyarakat Indonesia. Contohnya dapat dilihat dari bangunan peninggalan dari kebudayaan Megalithikum yang dapat dipastikan dibangun secara bergotong
royong.
6. 6. Nilai Musyawarah
Nilai musyawarah yang terdapat pada masyarakat masa Praaksara dapat kita ketahui pada zaman Perundagian. Masyarakat Indonesia pada zaman Perundagian sudah mengenal pemimpin kelompok masyarakat di mana pemimpin ini adalah orang yang berwibawa, orang disegani, yang dapat mengatur masyarakat, memberikan keputusan dan memecahkan masalah. Hal ini dapat terlihat pada beberapa suku yang ada di Indonesia yang masih mempunyai Tetua Adat. Musyawarah juga merupakan cara yang paling utama untuk menyelesaikan masalah pada masyarakat Indonesia sampai saat ini.
Komentar
Posting Komentar