Periodisasi Secara Sosial, Ekonomis, dan Budaya


Kehidupan pada Zaman Praaksara ditinjau dari aspek sosial, ekonomis, dan budaya mengalami tahapan atau perkembangan. Dari pola yang paling sederhana ke tahap yang lebih maju. Tentu saja tahapan perkembangan mengikuti kepandaian yang dimiliki masyarakat pada saat itu. Periodesasi ini didasari pada tahapan perkembangan masyarakat pada kehidupan masa itu, yaitu Masa Berburu dan Meramu (Mengumpulkan) Makanan Tingkat Awal, Masa Berburu dan Meramu Tingkat Lanjut, Masa Bercocok Tanam, dan Masa Perundagian. Bagaimana perkembangan kehidupan masyarakat pada masa itu? Bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan hidupnya? Bagaimana pula mereka melakukan interaksi dalam kelompoknya atau berinteraksi antar kelompok? Apa saja peralatan yang mereka buat untuk keperluan hidupnya?


Perkembangan kehidupan masyarakat menurut keadaan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat akan diuraikan sebagai berikut:

1. Masa Berburu dan Meramu (Mengumpulkan) Makanan Tingkat Awal

Pada zaman ini kehidupan peradaban masyarakat masih rendah. Mereka hidup dengan cara berburu binatang dan meramu (mencari dan mengumpulkan makanan). Hidupnya masih sangat bergantung pada alam yang menyediakan makanan. Jenis makanan yang mereka cari adalah buah–buahan, umbi–umbian, dan daun–daunan. Apabila makanan yang ada di sekitar tempat tinggal habis, maka mereka akan berpindah tempat untuk mencari sumber makanan yang baru (nomaden). Mereka tinggal di gua (ceruk) dekat mata air ataupun padang rumput yang diselingi semak belukar yang merupakan tempat untuk berburu hewan. Mereka yang tinggal di gua pinggir pantai mencari kerang atau hewan laut lainnya untuk dimakan. Kehidupan tidak menetap seperti ini disebut dengan nomaden. Hidup mereka secara berkelompok yang terdiri atas keluarga–keluarga kecil. Ada pembagian tugas di antara mereka, yakni laki–laki melakukan perburuan, sedangkan perempuan mengumpulkan makanan dari tumbuhan, umbi–umbian atau hewan kecil.

Pada masa ini manusia sudah bisa membuat peralatan dari batu yang sederhana, kayu ataupun tulang. Seperti kapak perimbas, kapak genggam, kapak penetak, dan flakes (alat serpih). 

2. Masa Berburu dan Meramu (Mengumpulkan) Makanan Tingkat Lanjut

Kehidupan masyarakat pada masa ini sudah mengalami perkembangan lebih maju dibandingkan masa sebelumnya. Masa ini bisa kalian hubungkan dengan Zaman Mesolithikum. Manusia sudah mulai hidup dengan keahlian bercocok tanam yang sederhana dengan sistem berladang (huma) di samping masih melakukan kegiatan berburu dan meramu. Selain berladang, manusia pada masa ini juga sudah bisa mengembangbiakkan binatang.

Walaupun mereka sudah mampu bercocok tanam, mereka masih berpindah yang disebabkan oleh kesuburan tanah yang mereka tanami semakin berkurang. Namun, bisa juga tempat tinggal mereka mulai menetap (semi sedenter) apabila jumlah makanan di sekitarnya masih banyak dan daerah perburuannya semakin luas. Mereka masih memilih gua sebagai tempat tinggal yang aman bagi kelompoknya yang jumlahnya lebih besar dari sebelumnya.

Selama mereka bertempat tinggal di gua, mereka mulai melukis di dinding gua. Lukisannya menggambarkan tentang kehidupan mereka pada saat itu, seperti yang terdapat di Gua Leang–Leang, Sulawesi Selatan. Diperkirakan lukisan mereka juga melambangkan kepercayaan yang mulai berkembang pada saat itu. Alat atau perkakas dari batu juga dibuat lebih halus dari sebelumnya. Alat tersebut, antara lain kapak Sumatra dan alat tulang sampung yang digunakan untuk menggali umbi–umbian.


Gambar. Lukisan di Gua Leang–Leang Sumber:

https://indotimnet.files.wordpress.com/2009/08/ca pture71.jpg

3. Masa Bercocok Tanam

Setelah tahap berburu dan meramu terlampaui, masyarakat memasuki masa bercocok tanam. Peralatan yang dihasilkan pada masa ini berkaitan dengan Zaman Neolithikum. Pada masa ini kemampuan manusia sudah lebih meningkat lagi dari kehidupan sebelumnya, telah terjadi perubahan pola hidup yang mendasar, yaitu manusia sudah mampu mengolah alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka sudah mengenal bercocok tanam, mengolah tanah, dan memelihara hewan, seperti ayam, kerbau dan lainnya. Mereka membabat hutan dan membuka ladang–ladang yang menghasilkan hasil pertanian. Mereka mulai menguasai cara menyimpan dan mengawetkan makanan secara sederhana. Selain itu, mereka juga melakukan perdagangan secara barter dengan menukar barang berupa hasil bumi dan hasil kerajinan tangan, seperti gerabah dan beliung.

Pada masa ini, kehidupan masyarakat sudah menetap (sedenter) dan hidup teratur membentuk masyarakat perkampungan. Mereka tidak tinggal di gua lagi, tetapi di perkampungan sederhana yang dipimpin oleh kepala kampung yang biasanya dipilih yang tua, berwibawa, disegani, dihormati, dan ditaati oleh warga kampung yang dipimpinnya. Pembagian kerja juga mulai teratur, seperti kaum laki–laki bertugas membabat hutan, menyiapkan ladang, membangun rumah, dan membuat perahu; sedangkan perempuan bertugas menabur benih di ladang, merawat rumah, dan yang lainnya.

Peralatan yang dibuat pada masa ini tentu saja semakin maju. Alat–alat yang dihasilkan semakin halus dan manfaatnya juga semakin beragam. Ada peralatan yang digunakan untuk pertanian, upacara ritual, dan perhiasan, seperti kapak persegi, kapak lonjong, gerabah, dan perhiasan dari kerang atau batu.

Pada masa ini juga berkembang kepercayaan menyembah roh nenek moyang (animisme), kekuatan benda atau alam (dinamisme) atau menyembah hewan (totemisme). Oleh karena itu, pada masa ini juga berkembang tradisi pendirian bangunan–bangunan dari batu besar yang disebut dengan bangunan Megalithikum. Tradisi pendirian bangunan batu besar ini didasari oleh kepercayaan akan adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati terhadap kesejahteraan dan kesuburan tanaman. Bangunan ini kemudian dijadikan sebagai tempat penghormatan, tempat penguburan atau lambang bagi orang yang sudah meninggal.

4. Masa Perundagian

Masa Perundagian merupakan masa paling akhir pada zaman Praaksara. Kata “undagi” dalam Bahasa Bali artinya tenaga ahli. Undagi dapat juga diartikan sebagai orang atau sekelompok orang yang mempunyai kepandaian atau keterampilan usaha tertentu.

Kehidupan pada masa ini sudah jauh lebih maju, seperti kegiatan yang mereka lakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan. Kegiatan pertanian di ladang dan sawah masih dilakukan. Selain itu, juga sudah terdapat pengaturan air untuk pertanian agar tidak lagi bergantung pada air hujan. Kegiatan peternakan semakin beragam. Kegiatan perdagangan semakin meluas walaupun masih menggunakan sistem barter, namun dapat menjangkau tempat–tempat yang jauh, yakni antar pulau. Barang yang dibuat barter pun semakin beraneka ragam, seperti alat pertanian, alat upacara ritual, hasil bumi, dan hasil kerajinan.

Masyarakat pada masa ini juga lebih teratur, menetap di perkampungan yang lebih besar dari sebelumnya, jumlah penduduk lebih banyak dan tersusun menjadi kelompok– kelompok petani, pedagang ataupun undagi (pengrajin). Perburuan hewan dilakukan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan, tetapi juga menunjukkan tingkat keberanian, kegagahan, dan kekuatan pada lingkungan masyarakat.

Alat–alat yang dibuat pada masa ini adalah alat–alat yang terbuat dari logam dengan teknik tertentu untuk bertani, upacara ritual, dan perhiasan dari emas. Kalian bisa mengaitkan materi ini dengan Zaman Logam yang sudah dibahas sebelumnya. Pada masa ini pula seni lukis, seni pahat atau seni arsitektur mulai berkembang, seperti pembuatan arca dan pendirian bangunan untuk pemujaan sesuai dengan kepercayaan animisme dan dinamisme.


Gambar. Nekara perunggu yang diyakini masyarakat pada saat itu sebagai alat untuk memanggil hujan

Sumber: https://idsejarah.net/2017/04/pengertian- nekara.html



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Remidi ASAT 2 2024-2025

LKPD Perdagangan Internasional